Tukul

April 10th, 2008 | Kehidupan

Setelah melihat aksi Tukul di “Empat Mata” tiba-tiba saja saya ingin menulis. Menulis tentang betapa bahagianya hidup ini jika kita berguna bagi orang lain. Kenapa Tukul? Sebab hemat kami Tukul merupakan salah satu host yang cukup unik dan fenomenal di Indonesia. Baik di dunia televisi, komedi, hiburan bahkan individu sebagai public figure.

Setidaknya Tukul bisa memberikan hiburan bagi banyak penggemarnya, bahkan mampu menghadirkan hikmah dari kehidupan sehari-hari para bintang tamu yang diundang. Justru dari perspektif yang sederhana dan menyentuh mengalir begitu saja diselingi canda yang justru sangat tidak relevan, digunakan sebagai bumbu.

Manakala kita disodorkan suguhan seperti ini maka secara tidak sadar akan lebih banyak hikmah yang kita tangkap dibanding misalnya sesuatu yang sengaja digali dengan serius dan, terkesan, berat. Tukul adalah “Empat Mata” lebih lagi “Empat Mata” adalah Tukul. Kembali ke lap..top, maksud saya kembali kepada pembicaraan awal, maka seorang Tukul akan lebih mudah menyampaikan pesan moral dan kebaikan ke khalayak justru karena kesederhanaannya. Karena ke-naif-annya. Bahkan mohon ma’af, karena ke-culun-annya.

Bisa dibayangkan jika seorang Tukul adalah tokoh pintar, selebritis keren atau seorang yang terkenal karena kekayaannya. Bahkan gabungan dari dua atau lebih maka akan lain kejadiannya. Katakanlah acaranya sukses dan kocak seperti “”Empat Mata”" tetap pesan yang kita terima akan berbeda jika dibawakan oleh seorang Tukul. Karena alam bawah sadar kita akan memerintahkan kita untuk sedikit imun, protect bahkan menutup diri. Yang dengan sendirinya akan menutup fikiran dan hati kita karena faktor-faktor tadi.

Mungkin kita akan merasa digurui, atau kita akan berfikir “terang aja lo bisa ngomong gitu… lo khan udah kaya dari kecil.” Atau kita akan dikalahkan oleh pesona ketokohan, ketampanan atau kecantikan sang slebritis sehingga walau di depan TV sekalipun kita akan “jaim” dan tidak lepas. Singkatnya, tanpa disadarai, akan banyak fiter yang terbentuk di benak kita. Memang yang saya katakan ini tidak berlaku untuk semua orang, tapi saya yakin mayoritas akan mengalami hal ini. Kecuali orang-orang atau pribadi yang telah sukses dan bisa menempatkan diri secara arif sehingga tidak lagi melihat siapa yang berbicara namun lebih kepada isi pembicaraan. Bahkan bukan lagi kata per kata, melainkan lebih fokus kepada hikmah dari rangkaian kata, kalimat serta cerita yang disampaikan.

Sewajarnya dan adalah suatu kebaikan jika kita juga memiliki keinginan untuk berguna bagi orang lain, tentunya sesuai kapasitas, peran dan fungsi kita masing-masing. Melalui tulisan kita bisa memberikan hikmah, melalui tutur kata atau nasihat dan hiburan kita bisa memberikan hikmah. Melalui contoh dan tauladan baik kita bisa memberikan hikmah bahkan melalui diampun kita bisa memberikan hikmah. Apalagi bagi yang memiliki kekuasaan seperti guru, aparat negara, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lainnya termasuk profesi pekerja seni dan publik figure tentu akan memiliki efek lebih luas apalagi jika didasari sifat ikhlas.

Orang paling beruntung adalah yang memiliki umur panjang serta diisi dengan kebaikan dan manfaat bagi sesama.

Kotamobagu, Kamis 10 April 2008

One Response to “Tukul”

  1. tukul itu sangat berjiwa bersar.. berkorban dengan rela melecehkan dirinya sendiri untuk memuaskan orang lain…

    salut.

    meski saya tak bisa menikmati acaranya hehe

Leave a Reply